Obat Covid-19 dari Unair Masih Perlu Penyempurnaan Uji Klinis

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 20 Agustus 2020 - 13:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PIJAR | JAKARTA – Upaya tim gabungan Universitas Airlangga, Badan Intelijen Negara (BIN), dan TNI Angkatan Darat (AD) untuk menemukan obat penawar virus corona ternyata masih memerlukan uji klinis yang lebih sempurna. Hal ini dipastikan setelah pengujian klinis terhadap vaksin tersebut belum bisa mendapat status lulus dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Menurut BPOM, masih terdapat sederet masalah dari kombinasi vaksin tersebut. Antara lain, obat kombinasi tersebut belum merepresantasikan masyarakat Indonesia. Pasalnya, uji klinis terhadap obat itu belum memenuhi lantaran subjek atau pasien yang dipilih tidak dilakukan secara acak.

“Suatu riset itu kan harus dilakukan secara acak sehingga betul-betul merepresentasikan populasi dari di mana nanti obat itu akan diberikan,” ujar Kepala BPOM Penny Lukito, Rabu, 20/8/20.

BPOM juga menemukan adanya masalah mengenai pemberian obat terhadap pasien positif COVID-19 tanpa gejala. “Padahal kan sesuai dengan protokolnya OTG (orang tanpa gejala) tdak perlu diberi obat,” kata dia.

Baca Juga :  Bamsoet Dorong STIN Lahirkan Prajurit Perang Pikiran Berkelas Dunia

Selain itu, obat kombinasi tersebut juga tidak memberikan efek yang signifikan dari terapi obat yang sudah ada. Seharusnya, dalam suatu riset harus menunjukkan hasil yang baru dari terapi obat lainnya.

Penny juga menyebut obat kombinasi itu merupakan obat keras sehingga dibutuhkan ketaatan protokol pemberian izin oleh lembaganya. “Karena ini obat kombinasi ini adalah obat keras tentunya ada side effect yang bsa ditimbulkan sehingga kita tdak bsa sembarangan orang apalagi orang yang tidak sakit,” kata Penny.

Baca Juga :  Usai di Depok, Jokowi Tinjau Vaksinasi Covid-19 Massal di Kabupaten Tangerang

Sebelumnya, Tim peneliti dari Universitas Airlangga, Badan Intelijen Negara, dan TNI Angkatan Darat mengklaim telah menemukan kombinasi obat untuk corona pertama di dunia. Obat kombinasi ini juga sempat diberikan kepada pasien positif Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD).

Simpulan yang diperoleh tim peneliti Unair, ada tiga kombinasi obat yang diklaim efektif yakni lopinavir-ritonavir-azithromycin, kemudian lopinavir-ritonavir-doxycycline, serta hydrochloroquine dan azithromycin. Tiga kombinasi itu diambil dari total lima kombinasi yang mulanya diteliti. “Kami ambil tiga tersebut karena efektivitasnya mencapai 98 persen dan kami lakukan uji klinis dengan mengujinya secara acak di lapangan,” kata Rektor Unair Prof M Nasih. (Nopriansyah)

Berita Terkait

Peluncuran FKPMS, KCD Wilayah III Jabar: Pencegahan Persoalan Sosial yang Muncul di Lingkungan Pelajar
Panglima TNI Resmikan Masjid Kubah Baret Merah di Bandung Barat
Operasional Pabrik Diprotes, Data DPMPTSP Ungkap PT MMP Tak Kantongi Izin Lengkap
Turyono Terpilih Aklamasi Pimpin Komite Gantole Magelang Periode 2025–2029
Gubernur Aceh Sampaikan Selamat kepada Tito Karnavian atas Gelar Adat dari Wali Nanggroe
Bamsoet: Jadikan Momentum Idul Fitri Mempererat Persaudaraan dalam Keberagaman
RUU KUHAP Berpotensi Membelenggu Kebebasan Advokat
Bamsoet Dorong Peningkatan Penggunaan Teknologi Digital dalam Praktik Notaris
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 07:45 WIB

Peluncuran FKPMS, KCD Wilayah III Jabar: Pencegahan Persoalan Sosial yang Muncul di Lingkungan Pelajar

Selasa, 20 Januari 2026 - 19:32 WIB

Panglima TNI Resmikan Masjid Kubah Baret Merah di Bandung Barat

Rabu, 3 Desember 2025 - 20:16 WIB

Operasional Pabrik Diprotes, Data DPMPTSP Ungkap PT MMP Tak Kantongi Izin Lengkap

Rabu, 26 November 2025 - 21:55 WIB

Turyono Terpilih Aklamasi Pimpin Komite Gantole Magelang Periode 2025–2029

Rabu, 12 November 2025 - 12:59 WIB

Gubernur Aceh Sampaikan Selamat kepada Tito Karnavian atas Gelar Adat dari Wali Nanggroe

Berita Terbaru