Perketat Syarat Penggunaan Omnibus Law dalam RUU Pembentukan Perundang-undangan

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 4 Maret 2022 - 11:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Revisi Undang-Undang No.15 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU No.12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (PPP) resmi menjadi usul inisiatif DPR. Sejumlah muatan materi yang cenderung fokus pada pengaturan metode omnibus law menjadi bagian penting dalam menjustifikasi dalam pembuatan sejumlah peraturan perundangan. Namun perlu dibuat aturan syarat penggunaan metode omnibus law di dalam RUU tersebut.

Juru bicara Fraksi Partai Gerindra, Jefry Romdonny dalam pandangan fraksinya berpendapat, putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No.91/PUU-XVIII/2020 satu di antaranya memerintahkan adanya pengaturan metode omnibus law. Karenanya perlu pengaturan terkait mekanisme omnibus law dan pembatasan penggunaannya.

Dia mengakui omnibus law menjadi metode yang memiliki banyak kelebihan. Seperti mengurangi potensi disharmonisasi dan tumpang tindih peraturan perundangan, waktu pembahasan lebih cepat, tercipta efisiensi hingga harmonisasi hukum dan efisiensi anggaran. Sebaliknya, metode ini juga memiliki kekurangan. Seperti, kurang ketelitian dan kehati-hatian dalam perumusan setiap norma pasal. Sebab banyak UU yang terdampak.

Peraturan perundangan memiliki implikasi besar terhadap rakyat, sehingga pembentukannya mesti teliti, cermat, aspiratif dan menghindari kesalahan typo. Kendati pembetulan typo telah diakomodir dalam RUU, namun sedapat mungkin dihindari kesalahan. Karena itulah penggunaan metode omnibus law harus selektif dan ketat hanya diperuntukan bagi RUU yang memiliki implikasi besar terhadap kepentingan negara, serta bukan sesaat.

Baca Juga :  Langkah Untuk Lelang Eksekusi pada Jaminan Fidusia Setelah Putusan MK

“Fraksi Gerindra berpandangan agar dibuat aturan yang ketat terkait penggunaan metode omnibus law, sehingga penggunaanya akan lebih selektif,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Juru bicara Fraksi Golkar Saniatul Lativa berpandangan, omnibus law bukanlah metode yang baru diterapkan dalam pembentukan peraturan perundangan di Indonesia. Hanya saja nomenklatur omnibus law baru populer saat pembentukan UU No.11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Omnibus law menjadi konvensi ketatanegaraan di saat peraturan perundangan yang ada bersifat pasif dan tak mampu menjawab tantangan kondisi kekinian yang harus segera diatasi. Boleh dibilang, omnibus law konvensi ketatanegaraan untuk memenuhi kebutuhan hukum yang tidak bisa diberikan oleh UU 12/2011.

“Harus ada standar tertentu kapan metode omnibus law bisa digunakan di dalam proses pembentukan peraturan perundangan,” ujarnya.

Baca Juga :  Diduga Sebar Hoaks Gambar Puan, Ketua DPRD Dilaporkan ke Polisi

Hal senada juga diutarakan juru bicara Fraksi PKS, Bukhori. Menurutnya, prasyarat dalam penggunaan metode omnibus law bertujuan untuk menjamin kepastian hukum, kualitas legislasi dan melibatkan partisipasi masyarakat. Ia mengusulkan agar metode omnibus law hanya dapat digunakan untuk penyusunan peraturan perundangan terhadap satu bidang atau topik khusus tertentu (kluster, red).

Tujuannya agar penyusunan peraturan perundangan fokus pada satu tema spesifik tertentu. Selain itu, ia juga mengusulkan agar diperlukan alokasi pengaturan waktu yang memadai untuk penyusunan peraturan perundangan yang menggunakan metode omnibus law. “Agar penyusunan tidak dilakukan tergesa-gesa dengan mengabaikan partisipasi publik,” pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan, delapan dari sembilan fraksi memberikan persetujuan terhadap RUU PPP menjadi usul insiatif DPR dalam rapat paripurna. Hanya F-PKS yang menolak RUU tersebut disetujui menjadi usul inisiatif DPR. Sebab RUU tersebut baru beberapa kali dibahas di Badan Legislasi. Karenanya perlu pendalaman terlebih dahulu sebelum diambil keputusan menjadi usul insiatif.

Berita Terkait

Kejari Jakpus Berhasil Tangkap Indah Harini, Terpidana Kasus Penggelapan dan TPPU
Kejagung Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto Sebagai Tersangka Perkara Tambang Nikel di Sultra
Produser Film ‘Sang Pengadil’ Agung Winarno Jadi Tersangka TPPU Zarof Ricar
Kejati Kaltim Tahan Mantan Kadistamben Kabupaten Kukar Terkait Kasus Tambang
Sidang Korupsi dan TPPU Korporasi PT Duta Palma Group, Atase Kejaksaan dari Singapura Jadi Saksi
Kejari Jakarta Utara Tetapkan Enam Tersangka Dugaan Korupsi Pembelian Tanah Oleh Perumda di Cilincing
Kejari Jakarta Utara Tahan Empat Tersangka Dugaan Korupsi Penerbitan Sertifikat VGM
Bareskrim Polri Serahkan 5 Tersangka Judol dan Barang Bukti Rp55 Miliar kepada Penuntut Umum
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 18:20 WIB

Kejari Jakpus Berhasil Tangkap Indah Harini, Terpidana Kasus Penggelapan dan TPPU

Kamis, 16 April 2026 - 18:18 WIB

Kejagung Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto Sebagai Tersangka Perkara Tambang Nikel di Sultra

Kamis, 16 April 2026 - 18:18 WIB

Produser Film ‘Sang Pengadil’ Agung Winarno Jadi Tersangka TPPU Zarof Ricar

Rabu, 15 April 2026 - 21:51 WIB

Kejati Kaltim Tahan Mantan Kadistamben Kabupaten Kukar Terkait Kasus Tambang

Selasa, 14 April 2026 - 20:03 WIB

Sidang Korupsi dan TPPU Korporasi PT Duta Palma Group, Atase Kejaksaan dari Singapura Jadi Saksi

Berita Terbaru