Musim Pancaroba Tiba

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 5 Oktober 2017 - 10:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PIJAR | Jakarta – Awal Oktober sampai November 2017, kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) memasuki masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan atau pancaroba. Selama masa pancaroba itu, cuaca diprakirakan dapat berubah cepat, dari cerah menjadi berawan tebal hingga turun hujan sampai pada hujan es di sejumlah tempat.

“Untuk wilayah Jakarta secara umum masih dalam transisi dari musim kemarau ke musim hujan atau pancaroba, tapi khususnya di bagian selatan Jakarta, seperti Depok, Bogor sebagian memasuki musim hujan,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BMKG Harry Tirto Djatmiko Rabu, 4 Oktober 2017.

Musim pancaroba, lanjutnya, bisa dilihat dari karakter hujannya, pertama kali turun hujan deras yang berlangsung tiba-tiba disertai angin kencang dengan durasi singkat. Selain itu, hujan es bisa terjadi selama masa awal musim penghujan ini.

Hary menjelaskan, hujan es umum terjadi pada masa pancaroba, baik dari musim kemarau ke musim hujan maupun sebaliknya. Jadi, tak perlu kaget jika terjadi hujan es seperti di Kota Depok, Jawa Barat, selama kurang lebih setengah jam pada Minggu, 1 Oktober 2017.

Menurut Hary, hujan es bisa ditandai dengan indikasi cuaca sehari sebelumnya, di mana udara pada malamnya hingga pagi esok terasa panas dan gerah. Kemudian, menjelang siang hari, akan ada tumpukan awan putih yang secara cepat berubah menjadi awan abu-abu atau hitam. Jenis awan itu dikenal dengan nama cumulonimbus (Cb).

Baca Juga :  3 Bukti Obstruction of Justice yang Jerat Ferdy Sambo CS

“Ciri-ciri lain musim pancaroba, kelembaban udara tinggi, dan membuat gerah. Kemudian di sore hari awan menjadi kehitaman,” kata Harry.

Di wilayah Utara Jakarta, kata Harry, masih memasuki musim pancaroba yang ditandai dengan panas yang terik di siang hari, dan hujan di malam hari.

Di musim pancaroba seperti ini, hujan di malam hari akan terjadi dengan intensitas sedang, lebat dan dimungkinkan sangat lebat. Hujan juga terkadang disertai dengan kilat dan petir.

“Kalau di musim pancaroba, hujan lebat yang harus diwaspadai adalah genangan, karena itu sebaiknya masyarakat mulai membersihkan drainase,” kata dia.

Selain itu, dia juga mengimbau masyarakat di wilayah Jabodetabek agar menghindari lokasi-lokasi rawan, seperti di bawah papan reklame besar, atau pohon-pohon besar. Maklum, sewaktu-waktu papan reklame dan pohon besar bisa saja tumbang terhempas angin.

Musim Pancaroba di Jabodetabek ini, menurut Harry akan terjadi hingga November 2017. “Tahun ini normal, transisi musim terjadi pada September, Oktober, November, setelah itu masuk musim hujan,” kata Harry.

Musim hujan, kata Harry, ditandai dengan turunnya hujan terjadi setiap hari. “Durasinya panjang. Kalau seperti ini yang harus diwaspadai adalah daerah-daerah dataran rendah yang rawan banjir,” ujar Harry.

Baca Juga :  Pentingnya Kolaborasi Publik dan Swasta Perangi Korupsi di Indonesia

Sedangkan Ahli kesehatan mengingatkan risiko munculnya berbagai penyakit salah satunya influenza kala musim pancaroba datang. “Perubahan cuaca sangat ekstrem, tekanan udara, angin kencang, penyebaran serbuk sari yang bisa menyebabkan seseorang dengan riwayat asma mengalami serangan asma seperti batuk-batuk, pilek, badan agak hangat,” ujar Spesialis Penyakit Dalam, dr. Laurentius Aswin Pramono, SpPD, M.Epid.

Dia menganjurkan untuk mempersiapkan baju tebal kala cuaca mulai dingin serta siap sedia jas hujan sebagai langkah awal. Lalu, sebaiknya kurangi frekuensi ke luar rumah kala tak ada keperluan, dan pastikan asupan cairan dan makanan bergizi seimbang yang cukup untuk tubuh.

“Siapkan diri, pakai baju tebal, bawa jas hujan. Sebaiknya tidak keluar rumah. Makan dan minum lebih banyak, minum air putih (2L per hari),” kata Aswin.

Selain itu, tak kalah penting melakukan olahraga rutin dan mendapatkan vaksinasi dewasa untuk influenza. “Olahraga teratur dan vaksinasi (vaksinasi influenza dewasa. Perubahan cuaca ekstrem, daya tahan tubuh tak bagus, virus semakin berkembang,” tuturnya.

Situasi politik juga memasuki pancaroba tampaknya. Pilkada serentak Juni 2018 mulai memasuki masa pendaftaran calon, dan Pilpres masih bersengketa soal UU di Mahkamah Konstitusi.

Berita Terkait

TECNO POVA 8 Pro 5G Resmi Meluncur di Indonesia, Hadirkan Dual Chipset, Sony LYTIA 700C, dan Kolaborasi Eksklusif bersama Tonino Lamborghini
MEGAPAD 2 dan SE 2 Jadi Senjata Baru TECNO Menggarap Pasar Tablet Indonesia
Higgs Games Island Ajak Penggemar Berinteraksi Langsung dengan Luís Figo Melalui Kompetisi Juggling
Kembangkan Kompetensi Diri, Riki Handoyo ASN Non Jaksa Lulus Sidang Tesis Pascasarjana UKI
Penurunan Omzet Penjualan adalah Business Risk bukan Force Majeure
Tingkatkan Sinergitas Antara Lembaga Penegak Hukum, Kejagung Gelar Tenis Meja Persahabatan dengan KPK
Jalin Kolaborasi Strategis Bagi Para Pelaku Industri Produk Bayi dan Mainan Anak, IBTE 2025 Gelar Pameran di JIExpo Kemayoran
Catatan Redaksi: Potret Buram Penegakan Hukum Indonesia Berdasarkan Kasus Viral

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 23:08 WIB

TECNO POVA 8 Pro 5G Resmi Meluncur di Indonesia, Hadirkan Dual Chipset, Sony LYTIA 700C, dan Kolaborasi Eksklusif bersama Tonino Lamborghini

Kamis, 10 September 2026 - 15:28 WIB

MEGAPAD 2 dan SE 2 Jadi Senjata Baru TECNO Menggarap Pasar Tablet Indonesia

Kamis, 2 Juli 2026 - 16:56 WIB

Higgs Games Island Ajak Penggemar Berinteraksi Langsung dengan Luís Figo Melalui Kompetisi Juggling

Jumat, 12 Juni 2026 - 21:44 WIB

Kembangkan Kompetensi Diri, Riki Handoyo ASN Non Jaksa Lulus Sidang Tesis Pascasarjana UKI

Sabtu, 9 Mei 2026 - 22:07 WIB

Penurunan Omzet Penjualan adalah Business Risk bukan Force Majeure

Berita Terbaru