PKS: Kenaikan BBM Memiskinkan Nelayan

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 5 September 2022 - 09:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PIJAR|JAKARTA – Akhirnya kenaikan BBM bersubsidi benar-benar dilakukan oleh pemerintah. Awalnya sehari sebelum kenaikan BBM subsidi mengatakan bahwa BBM subsidi tidak akan dinaikkan, faktanya lain. Kenaikan BBM subsidi untuk solar dari 5.150 menjadi 6.800 naik 1.650 (26 persen) akan sangat berat bagi nelayan.

“Bagi nelayan kecil yang kenaikan harga BBM yang mencapai 26 persen lebih akan membuat kenaikan perbekalan mereka lebih dari 50 persen. Tentu ini sangat berat lagi nelayan kecil kita,” papar Riyono ketua DPP PKS bidang Tani Nelayan

Kondisi pandemi belum sepenuhnya pulih. Aktivitas ekonomi sedang bergerak mencari jalan sempit di tengah kondisi global yang tidak menentu, kenaikan harga BBM pasti akan diikuti dengan kenaikan harga pangan. Artinya pengeluaran nelayan bertambah, sedangkan pendapatan belum tentu. Kondisi ini sangat memberatkan bagi nelayan dan masyarakat pesisir.

Baca Juga :  PKS: Perppu 2 Tahun 2022 Adalah Bencana Undang-Undang

BPH Migas 2020 realisasi penyaluran BBM JBT Minyak Solar pada tahun 2018 untuk usaha perikanan mencapai 494.539 KL atau 25,61 persen dari kuota (1.931.155 KL). Sementara itu, pada tahun 2020 mencapai sebesar 530.000 KL atau 26 persen dari kuota (1.921.155 KL) dan di tahun 2021 sebesar 2.300.000 KL.

Kondisi aktual solar subsidi saat ini proses penyaluran per Februari 2022 sudah melebihi kuota sekitar 10 persen, dari yang seharusnya 2,27 juta kilo liter (KL) menjadi 2,49 juta KL.

Baca Juga :  Gus Imin Ziarahi Makam Habib Husein Luar Batang

“Ke mana saja larinya solar ini di gunakan? Jatah untuk nelayan yang hanya 500 ribuan KL tidak sepenuhnya bisa diakses oleh nelayan kecil. Tapi kenapa sekarang harga solar subsidi dinaikkan?” tanya Riyono.

Data setneg menyebutkan bahwa 2022 ada 147 kabupaten/kota wilayah pesisir dengan 1.3 juta (12.48 persen) penduduk miskin seperti nelayan masuk kategori desa miskin ekstrem. Kenaikan harga BBM ini akan semakin menambah angka kemiskinan pada nelayan dan warga pesisir.

“Apa negara tidak memikirkan ini? Jika solar tidak dapat dan mereka tidak mendapat pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari maka akan semakin sengsara mereka,” tutup Riyono. [PKS/ary]

Berita Terkait

Haidar Alwi: Politik Butuh Nilai, Bukan Sekadar Strategi
Dasco dan Komisi I Terima Koalisi Masyarakat Sipil, Bahas RUU TNI
DPRD DKI Jakarta Gelar Rapat Paripurna Hasil Reses ke-2
Ketum PBB Gugum Ridho Minta Pengurus Menjadi Penopang dan Penjaga Partai
Anggota Komisi III DPR Bamsoet: Pemberantasan Korupsi Minim Progres, Kerugian Negara Terus Meningkat
Ketua MPR RI Bamsoet: MPR Akan Gelar Sidang Paripurna September 2024
HNW: Demi Keadilan, Harusnya Koreksi Juga Presidential Threshold 20 Persen
NasDem Siap Menggunakan Hak Konstitusional untuk Mengajukan Hak Angket
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 19 Juli 2025 - 11:49 WIB

Haidar Alwi: Politik Butuh Nilai, Bukan Sekadar Strategi

Rabu, 19 Maret 2025 - 09:14 WIB

Dasco dan Komisi I Terima Koalisi Masyarakat Sipil, Bahas RUU TNI

Rabu, 12 Maret 2025 - 16:40 WIB

DPRD DKI Jakarta Gelar Rapat Paripurna Hasil Reses ke-2

Senin, 10 Maret 2025 - 17:55 WIB

Ketum PBB Gugum Ridho Minta Pengurus Menjadi Penopang dan Penjaga Partai

Jumat, 28 Februari 2025 - 08:28 WIB

Anggota Komisi III DPR Bamsoet: Pemberantasan Korupsi Minim Progres, Kerugian Negara Terus Meningkat

Berita Terbaru

Hukam

PN Bandung Tolak Praperadilan Wakil Wali Kota Erwin

Selasa, 13 Jan 2026 - 17:03 WIB