Penyesuaian KUHP dan KUHAP Baru pada SIPP, Ditjen Badilum Keluarkan Edaran

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 13 Januari 2026 - 17:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Direktorat Jenderal (Ditjen) Badan Peradilan Umum (Badilum) merespon cepat terkait dengan kendala penginputan pada aplikasi sistem informasi penelusuran perkara (SIPP) terkait KUHP dan KUHAP baru sebagaimana surat edaran Nomor 34/DJU/TI.1.1.1/I/2026.

Sehubungan dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Untuk mengantisipasi masalah yang timbul terkait pencatatan administrasi perkara pada aplikasi SIPP, dengan ini kami sampaikan langkah-langkah yang dapat dilakukan pada masa peralihan sebelum adanya penyesuaian pada aplikasi SIPP, bunyi Surat Edaran tersebut, Jumat 9 Januari 2026.

Pada Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Ditjen Badilum tersebut, terdapat beberapa penyesuaian yang timbul akibat KUHP dan KUHAP baru yaitu:

1. Penentuan klasifikasi perkara, maka hal yang dapat dilakukan adalah untuk klasifikasi perkara yang belum terakomodir dapat dimasukan pada item “Klasifikasi lain-lain”.

2. Penyesuaian template seperti penetapan majelis hakim, penunjukan panitera pengganti, berita acara sidang, putusan, maka perlu dilakukan untuk unduh template file word kemudian di edit secara manual. Adapun mengenai penyesuaian template terkait penetapan penyitaan, penggeledahan, dan perpanjangan penahanan juga menggunakan cara yang sama yaitu dengan mengundung template file word, edit secara manual, kemudian mengunggah dokumen tersebut.

Baca Juga :  Hari Pelanggan Nasional, BRI Rasuna Said Komitmen Berikan Layanan Terbaik

3. Pada SIPP belum terdapat pilihan status Putusan berupa Tindakan dan belum adanya kolom masa percobaan pidana mati, dan status pidana kerja sosial dan denda maka hal yang dapat dilakukan oleh satuan kerja yaitu dengan dimasukan putusan tersebut pada item lain-lain pada fitur status putusan.

4. Upaya Hukum Pidana saat ini hanya banding, namun KUHAP mengenal Perlawanan terkait dengan kewenangan mengadili, maka hal yang dapat dilakukan adalah Pada Pengadilan Negeri (PN) pencatatan pemberkasan dan pengiriman bundel perkara dilakukan secara manual (fisik) Pada Pengadilan Tinggi (PT) pencatatan dilakukan pada register manual

5. Di SIPP belum dijelaskan status kehadiran terdakwa (hadir/tidak hadir), maka hal yang dapat dilakukan adalah untuk diisi pada kolom keterangan;

6. Tidak ada kolom untuk penetapan pengadilan berkenaan dengan penghentian penyidikan, dan kesepakatan penyelesaian perkara melalui kesepakatan, maka hal yang dapat dilakukan adalah dicatatkan secara manual pada register;

7. Begitupun, terhadap aplikasi SIPP saat ini yang belum ada register pemblokiran asset, belum terdapat register permohonan surat penghentian penyidikan yang dimohonkan oleh penyidik, dalam register upaya hukum kasasi tidak ada kolom pengisian tanggal inzage, belum ada register upaya paksa (pemblokiran, penyadapan, red notice), dan belum ada register penyitaan terhadap barang yang tidak diketahui pemiliknya maka hal yang dapat dilakukan yaitu dicatatkan secara manual pada register;

Baca Juga :  Wujudkan BUMD yang Bersih dan Akuntabel, Kejari Kabupaten Bogor Teken MoU dengan BPRS Tegar Beriman

8. Sementara itu terhadap aplikasi SIPP saat ini yang belum ada kolom pencatatan amar putusan dengan kombinasi pidana pokok dan tambahan baru maka Dapat dimasukan pada item “Lain-lain” pada fitur status putusan.

“Apabila sudah dilakukan penyesuaian pada aplikasi SIPP, maka setiap proses yang sudah dicatatkan secara manual wajib diinput kembali kedalam aplikasi SIPP,” tambah bunyi surat edaran tersebut.

Selain pokok persoalan diatas, surat edaran ini juga memberikan solusi atas permasalahan umum lainnya yang mungkin akan dihadapi oleh satker, yaitu jika terjadi gangguan SIP yang mengakibatkan administrasi perkara secara elektronik tidak dapat dilaksanakan, maka pencatatan dilakukan secara manual.

Adapun terhadap permasalahan tanda tangan elektronik (TTE) dan permasalahan tersebut terjadi lebih dari 1 hari, maka salinan putusan dapat ditandatangani secara manual/tandatangan basah, dan apabila aplikasi tanda tangan elektronik (tte) sudah bisa digunakan kembali, maka salinan putusan wajib ditandatangani secara elektronik dan dibuatkan Berita Acara. (Acym)

Berita Terkait

Berkas Perkara Telah Terkirim Namun Nomor Registrasi Belum Terbit, Begini Penjelasan MA
Dirjen Badilum Pantau Tingkat Disiplin dan Kinerja Aparatur Peradilan
Tagline Baru “Polisi Bersama Masyarakat” Semangat yang Harus Diwujudkan dalam Pelaksanaan Tugas
BPA Kejaksaan RI Hadir dalam Pertemuan ke-11 ARIN AP di New Delhi
Lantik Tiga Kajari, Kajati DKJ: Lanjutkan Program Kerja yang Telah Berjalan Optimal
Penolakan Revitalisasi Tambak di Pantura, KOPAAAS: Audit Keuangan dan Aset WALHI
Sukses Gelar Lelang Serentak pada 365 Satker se-Indonesia, BPA Kejaksaan Pecahkan Rekor MURI
Kajati Sultra: Aset Daerah Harus Tertib, Aman dan Berkepastian Hukum

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:01 WIB

Berkas Perkara Telah Terkirim Namun Nomor Registrasi Belum Terbit, Begini Penjelasan MA

Senin, 5 Oktober 2026 - 20:59 WIB

Dirjen Badilum Pantau Tingkat Disiplin dan Kinerja Aparatur Peradilan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:34 WIB

BPA Kejaksaan RI Hadir dalam Pertemuan ke-11 ARIN AP di New Delhi

Selasa, 29 September 2026 - 20:57 WIB

Lantik Tiga Kajari, Kajati DKJ: Lanjutkan Program Kerja yang Telah Berjalan Optimal

Senin, 28 September 2026 - 13:33 WIB

Penolakan Revitalisasi Tambak di Pantura, KOPAAAS: Audit Keuangan dan Aset WALHI

Berita Terbaru