Menteri Jokowi Beda Pandangan | Meikarta Jadi KEK atau Metropolitan?

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 12 November 2017 - 16:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PIJAR | JAKARTA – Ternyata Proyek properti Meikarta kelolaan Lippo Group menjadi pergunjingan seru di Kabinet. Beberapa menteri rupaya belum satu suara dalam menyikapi Meikarta apakah akan masuk sebagai bagian dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) atau kota baru saja seperti, misalnya, Bumi Serpong Damai di Tangerang Selatan.

Toh Menteri Koordinator Biodang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan penolakan atas usulan pembentukan KEK tidak tepat karena masih menunggu hasil kajian. “Kami belum tahu hasil studinya. Tidak (berdasarkan) suka atau tidak suka. Hasil studi yang nanti jadi acuan,” kata Luhut di Kantor Kementerian Koordinator Maritim, Jakarta, Jumat, 10 November 2017.

Luhut menyatakan hasil kajian itu yang akan membuktikan apakah pembentukan KEK di kawasan Bekasi dan sekitarnya sudah tepat atau tidak. Dia meminta pihak-pihak yang tidak sepakat dengan usulan tersebut menunggu kajian. Rencananya, kajian ini akan diselesaikan dalam dua pekan sejak 2 November 2017 lalu.

Jadi, hasil kajian itu dijadwakan selesai pada pertengahan November 2017. Dari kajian ini, pemerintah akan memutuskan bagaimana proyeksi Meikarta ke depannya.

Sebelumnya Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan KEK lebih cocok beroperasi di wilayah luar Pulau Jawa. “KEK itu cocoknya luar Jawa, tapi nanti kami akan lihat kembali,” kata Airlangga.

Sedangkan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan pembentukan KEK di wilayah Kabupaten Bekasi, Karawang, dan Purwakarta tidak layak. Kawasan tersebut, dianggap sudah berkembang pesat, telah memiliki fasilitas pembangunan infrastruktur dan tak memerlukan insentif fiskal.

“Jadi yang akan kami dorong adalah pengembangan kawasan metropolitan karena kawasan metropolitan Jakarta masih terpaku seolah hanya Jabodetabek,” kata Bambang.

Bambang menjelaskan, dengan menjadi kawasan metropolitan, pemerintah dapat berfokus kepada pengembangan infrastruktur dan konektivitas di wilayah tersebut. Selain itu aturan yang dibuat bisa lebih dinamis dan efisien untuk memudahkan investasi.

Baca Juga :  Presiden Pastikan Penyaluran Bantuan Pangan dan BLT El Nino di Banyumas

“Kalau ini kan (kawasan yang) sudah banyak investor tapi kami ingin lebih banyak lagi yang datang,” katanya.

Apalagi menurut Bambang, pada 2045 nanti Bandung dan Jakarta akan bersinggungan lantas membentuk megapolitan berpenduduk 80 juta orang. Oleh sebab itu perlu segera ada penataan yang dilakukan dari tingkat perencanaan. “Antisipasi infrastrukturnya, lalu penataan ruang serta memisahkan daerah perumahan, industri, hingga mana lahan pertanian,” kata Bambang.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Tinjau Rencana Revitalisasi Pasar Purwodadi

Usulan soal KEK ini datang dari Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia dalam pertemuan dengan Presiden Joko Widodo pada Kamis, 26 Oktober 2016. Dalam pertemuan hampir tiga jam yang juga dihadiri CEO Lippo Grup James Riady, Kadin meminta agar pemerintah mengkaji opsi menjadikan wilayah Bekasi, Karawang, dan Purwakarta sebagai KEK. Luhut pun ditunjuk Jokowi untuk mengkoordinasikan usulan pembentukan KEK.

Luhut mengatakan, dengan adanya KEK, perizinan di daerah tersebut akan dipermudah. Selain itu, 23 kawasan yang terdapat di KEK tersebut akan terhubung dengan adanya berbagai infrastruktur penunjang.

Salah satu kawasan yang akan masuk ke dalam KEK adalah megaproyek Meikarta yang dikelola oleh PT Lippo Cikarang Tbk. Hingga kini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat masih membahas Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Bekasi, termasuk di dalamnya proyek Meikarta. Belum rampungnya pembahasan RDTR membuat Meikarta hingga kini belum mengantongi izin Amdal dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), meskipun mereka gencar memasang iklan.

Berita Terkait

H-4 Lebaran 2025, Sebanyak 80.044 Penumpang Sudah Diberangkatkan dari Daop 6 Yogyakarta
Rakor Bidang Polkam KADIN Indonesia Matangkan Rencana Revisi UU No. 1 Tahun 1987 Tentang KADIN Indonesia
Tinjau Pasar Induk, Gubernur Pramono Pastikan Stok dan Harga Pangan Stabil
Paguyuban Keluarga Sejahtera (PKS) Berbagi Keberkahan di Bulan Ramadhan
KAI Daop 1 Jakarta Catat Lebih dari 425 Ribu Tiket Lebaran Terjual
Pertamina Tegaskan Kualitas Pertamax Sesuai Spesifikasi
Kepala Bapanas Pastikan Ketersediaan Beras Hadapi Bulan Ramadhan dan Lebaran
Presiden Jokowi Pastikan Bantuan Pangan Terus Bergulir
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 25 Maret 2025 - 12:27 WIB

H-4 Lebaran 2025, Sebanyak 80.044 Penumpang Sudah Diberangkatkan dari Daop 6 Yogyakarta

Rabu, 12 Maret 2025 - 16:30 WIB

Rakor Bidang Polkam KADIN Indonesia Matangkan Rencana Revisi UU No. 1 Tahun 1987 Tentang KADIN Indonesia

Senin, 10 Maret 2025 - 12:10 WIB

Tinjau Pasar Induk, Gubernur Pramono Pastikan Stok dan Harga Pangan Stabil

Senin, 3 Maret 2025 - 05:02 WIB

Paguyuban Keluarga Sejahtera (PKS) Berbagi Keberkahan di Bulan Ramadhan

Kamis, 27 Februari 2025 - 14:48 WIB

KAI Daop 1 Jakarta Catat Lebih dari 425 Ribu Tiket Lebaran Terjual

Berita Terbaru