Koordinasi Kebijakan Dorong Rupiah Menguat, Bank Mandiri Soroti Rebound IHSG

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 27 Juni 2026 - 22:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Bank Mandiri menilai penguatan nilai tukar rupiah dan rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa pekan terakhir merupakan hasil dari sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang semakin terkoordinasi, serta respons pasar terhadap komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyampaikan bahwa kehadiran aktif pemerintah dan Bank Indonesia di pasar menjadi kunci utama memperbaiki sentimen investor. “Penguatan rupiah dan rebound IHSG dipengaruhi oleh koordinasi fiskal dan moneter yang solid, serta langkah-langkah kebijakan yang nyata di lapangan,” ujar Andry.

Dari sisi domestik, perbaikan kurva imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), terutama untuk tenor panjang, berhasil menarik kembali minat investor asing ke pasar obligasi. Dalam dua minggu terakhir pasar obligasi Indonesia mencatat arus masuk (inflow) setelah sebelumnya mengalami outflow year-to-date, yang menjadi indikator membaiknya kepercayaan investor terhadap aset domestik.

Pemerintah juga mendapat apresiasi atas kebijakan refocusing dan realokasi anggaran yang meningkatkan efektivitas belanja negara. Dengan mengalihkan anggaran ke sektor-sektor produktif, seperti infrastruktur transportasi, logistik, telekomunikasi, serta program digitalisasi dan dukungan bagi UMKM, langkah ini dinilai memperkuat pondasi pertumbuhan jangka panjang sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja.

Baca Juga :  Perlindungan Hukum Terhadap Pelanggaran Hak Cipta Daring Belum Efektif

Bank Indonesia turut memperkuat stabilitas melalui intervensi terukur di pasar valuta asing dan peningkatan pasokan devisa hasil ekspor. Optimalisasi mekanisme local currency transaction (LCT) juga meningkatkan penggunaan rupiah dalam perdagangan lintas batas, mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan menambah stabilitas sistem keuangan domestik.

Kondisi eksternal yang lebih kondusif, termasuk meredanya tensi geopolitik dan penurunan harga minyak dunia di bawah USD 80 per barel, turut memberi sentimen positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Namun Andry mengingatkan pasar tetap waspada terhadap volatilitas global, khususnya sinyal kenaikan suku bunga dari the Fed yang berpotensi menguatkan dolar AS dan memberi tekanan pada mata uang emerging markets.

Meskipun menghadapi tekanan eksternal, Bank Mandiri menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di kisaran 5 persen, sementara inflasi diperkirakan tetap terkendali di sekitar target Bank Indonesia. Cadangan devisa yang berada di kisaran USD 144–145 miliar memberikan bantalan lebih dari lima bulan impor, sehingga mampu menopang stabilitas nilai tukar.

Baca Juga :  Pemprov Jatim Jajaki Kerja Sama dengan IsDB Jeddah

Bank Mandiri menyoroti sejumlah sektor yang menjadi motor pertumbuhan, antara lain transportasi, logistik, makanan dan minuman, perdagangan, serta telekomunikasi. Sektor pertanian dan manufaktur juga disebut memiliki potensi besar untuk didorong melalui insentif fiskal dan program pembiayaan yang tepat, yang pada gilirannya dapat meningkatkan produktivitas dan ekspor.

“Kebijakan terintegrasi antara pemerintah dan otoritas moneter, ditopang pengelolaan fiskal yang hati-hati dan komunikasi kebijakan yang jelas, memperkuat kepercayaan investor. Dengan demikian, Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk mempertahankan momentum pertumbuhan dan menarik investasi jangka panjang,” kata Andry.

Bank Mandiri juga menekankan pentingnya keberlanjutan pelaksanaan reformasi struktural dan percepatan proyek-proyek prioritas. Jika sektor-sektor strategis mendapat dorongan melalui insentif tepat sasaran, pertumbuhan Indonesia berpotensi meningkat hingga melebihi 5,5 persen secara berkelanjutan.

Sebagai penutup, Bank Mandiri menyatakan dukungannya terhadap kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan dan stabilisasi makro. “Risiko eksternal tetap ada, namun dengan koordinasi kebijakan yang kuat dan komunikasi yang efektif, peluang bagi Indonesia untuk tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan tetap terbuka lebar,” ujar Andry.

Berita Terkait

BRI Branch Office Radio Dalam Dorong Transaksi Cashless dengan Promo Cashback 30 Persen
Beri Kemudahan Bagi Masyarakat, PLN Hadirkan Promo Diskon 50 Persen Biaya Tambah Daya Listrik
Menpar Dukung BRI Wellness Experience 2026 Perkuat Ekosistem Wellness Tourism Indonesia
Restrukturisasi BUMN Karya untuk Perkuat Infrastruktur Nasional
Perbanas: Konsistensi Pemerintah Jadi Penentu Optimisme Investor dan Pelaku Usaha
Geotermal untuk Masa Depan Energi Nasional, Namun Investasi Belum Menarik
ICC Immersion Buka Jejaring Internasional Pegiat Ekraf Indonesia-Prancis
Andalkan Mesin Domestik dan Efisiensi, Menkeu Purbaya: Ekonomi Indonesia 2026 Tembus 6 Persen

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 11:49 WIB

BRI Branch Office Radio Dalam Dorong Transaksi Cashless dengan Promo Cashback 30 Persen

Selasa, 21 Juli 2026 - 05:47 WIB

Beri Kemudahan Bagi Masyarakat, PLN Hadirkan Promo Diskon 50 Persen Biaya Tambah Daya Listrik

Jumat, 17 Juli 2026 - 21:31 WIB

Menpar Dukung BRI Wellness Experience 2026 Perkuat Ekosistem Wellness Tourism Indonesia

Kamis, 2 Juli 2026 - 21:29 WIB

Restrukturisasi BUMN Karya untuk Perkuat Infrastruktur Nasional

Kamis, 2 Juli 2026 - 21:21 WIB

Perbanas: Konsistensi Pemerintah Jadi Penentu Optimisme Investor dan Pelaku Usaha

Berita Terbaru