Mengatasi Tantangan Perlambatan Ekonomi Global

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 22 Desember 2022 - 12:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PIJAR-JAKARTA – Situasi perekonomian secara global mengalami perlambatan yang perlu diantisipasi cepat di banyak negara termasuk Indonesia. Tantangan di bidang ekonomi bagi Indonesia khususnya pun datang silih berganti. Sejumlah lembaga internasional pun mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi di tanah air.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan tantangan perekonomian tanah air perlu gerak cepat untuk diantisipasi. Bank Pembangunan Asia semula memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional mencapai angka 5,4 persen dan memangkasnya menjadi 5 persen.

Ada pula Bank Dunia (World Bank) serta Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 di bawah 5 persen. Langkah tersebut sejalan dengan prospek perlambatan ekonomi global. “Tapi semua koreksi masih di angka 4,7 sampai 5 persen,” ujar Airlangga Hartarto dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (21/12/2022).

Head of Center of Industry, Trade dan Investment Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho berpendapat pemerintah Indonesia memiliki pekerjaan besar ke depannya saat perekonomian global dihadapkan pada situasi ketidakpastian. Seperti daya beli masyarakat dan konsumsi domestik.

Baca Juga :  5 Asas-Asas Hukum Tata Negara

Ia melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia bergantung pada daya beli masyarakat. Saat daya beli masyarakat terjaga, pertumbuhan ekonomi dalam negeri pun masih berpeluang besar mampu menghadapi dampak pelambatan ekonomi global. Namun, aspek regulasi perlu mendorong penguatan ekonomi dalam negeri.

Mantan Ketua Forum Studi Pembangunan itu menakar pertumbuhan ekonomi Indonesia di periode 2023 mendatang tak menyentuh di angka 5 persen. Soalnya, krisis pangan dan energi yang terjadi akibat perang Rusia-Ukraina berdampak terhadap perekonomian di banyak negara termasuk Indonesia.

Dia menilai target pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia hanya menyentuh angka 4,8 persen. Sebab, sejumlah lembaga internasional telah menurunkan angka pertumbuhan ekonomi global. Antara lain masih adanya ketidakpastian karena krisis geopolitik yang mengakibatkan persoalan di sektor pangan dan energi yang masih dirasakan banyak negara.

Meski begitu, Indonesia masih dapat sedikit ‘bernapas’ karena Indonesia tidak terlalu bergantung pada ekonomi global. Indonesia tidak menempati posisi utama dalam mata rantai pasok global. Pasalnya, konektivitas dengan negara luar, Indonesia boleh dibilang cenderung rendah.

Baca Juga :  Gegara Resepsi Saat PPKM Darurat, Lurah Depok Diperiksa Polisi

“Artinya kita bisa melihat menjadi bagian dari global supply chain itu juga masih rendah,” katanya.

Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah berpendapat koreksi dari sejumlah lembaga internasional tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terbilang di angka yang positif. Menurutnya, koreksi tersebut dilakukan akibat ketidakpastian global yang perlu diwaspadai. Namun, adanya kesamaan pandangan Indonesia tetap tumbuh positif di periode 2023.

Dia melanjutkan stabilitas dalam negeri di semua aspek perlu diwaspadai. Seperti stabilitas keamanan menjadi bagian prioritas yang perlu dijaga. Ia melihat perekonomian dalam negeri cenderung didorong banyak permintaan domestik.

Piter optimis bila permintaan domestik terjaga, ekonomi dalam negeri pun relatif tumbuh positif. Karenanya, kendati kasus Covid-19 terus mengalami penurunan, tetap waspada terhadap kemungkinan ancaman kesehatan lainnya. Sebab, pandemi Covid-19 belum berakhir menyeluruh. “Risiko ini yang harus dimitigasi,” katanya.

Berita Terkait

Febrie Adriansyah Didakwa Bersama-sama dengan Ferry Boboho Memeras Tan Kian
Kejati Kaltara Tahan Dua Tersangka Korupsi Kredit Investasi Bank BRI Agroniaga kepada PT SSP
Satgas PKH Kembali Serahkan Rp13,2 Triliun ke Kas Negara dan Masuk Tahap VIII
Saksi Tata Sugianto: Permintaan Ganti Rugi Rp350 Juta Disampaikan Bangun Paulus pada Pertemuan di Puri Mall
Berkas Perkara Lengkap, Dadan Hindayana Dkk Dilimpahkan ke Kejari Jakarta Pusat
Kredit Fiktif Bank BRI, Maria Lastry Gultom Divonis 8 Tahun Penjara dan Bayar Uang Pengganti Rp122 Miliar
Merasa Takut dan Terpaksa, Saksi Vinsen Akui Transfer Total Rp80 Juta ke Bangun Paulus Tudungta
Kasus Korupsi Tata Kelola Nikel, Kejagung Tangkap Mantan Sekjen ESDM Teguh Pamudji

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:24 WIB

Febrie Adriansyah Didakwa Bersama-sama dengan Ferry Boboho Memeras Tan Kian

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:22 WIB

Kejati Kaltara Tahan Dua Tersangka Korupsi Kredit Investasi Bank BRI Agroniaga kepada PT SSP

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:01 WIB

Satgas PKH Kembali Serahkan Rp13,2 Triliun ke Kas Negara dan Masuk Tahap VIII

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:33 WIB

Saksi Tata Sugianto: Permintaan Ganti Rugi Rp350 Juta Disampaikan Bangun Paulus pada Pertemuan di Puri Mall

Selasa, 29 September 2026 - 20:58 WIB

Berkas Perkara Lengkap, Dadan Hindayana Dkk Dilimpahkan ke Kejari Jakarta Pusat

Berita Terbaru