Peran Sentral Hakim dalam Menguji Keabsahan Deferred Prosecution Agreement

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 22 Februari 2026 - 05:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pijarjakarta.info – Gagasan Deferred Prosecution Agreement (DPA) kembali menjadi sorotan dalam diskursus hukum pidana korporasi. Dalam Seminar Nasional Magister Ilmu Hukum (MIH) UGM Jakarta bertajuk “Menakar Penerapan Deferred Prosecution Agreement dalam Penanganan Tipikor oleh Korporasi.

Solusi Efektif Pemulihan Kerugian Negara atau Bentuk Erosi Pertanggungjawaban Pidana,” Ketua Pengadilan Tinggi Kalimantan Timur, Dr. Albertina Ho, memaparkan secara komprehensif peran hakim dalam memastikan akuntabilitas penerapan DPA. Paparan tersebut disampaikan secara daring melalui platform Zoom, Sabtu (21/2/2026).

Dalam pemaparannya, Dr. Albertina Ho menegaskan bahwa DPA tidak boleh dipahami semata sebagai mekanisme negosiasi antara Penuntut Umum dengan korporasi namun, titik krusialnya terletak pada pengujian yudisial.

Hakim, menurutnya, memegang peran sentral dalam menguji keabsahan kesepakatan DPA yang telah dicapai sebelum dinyatakan sah dalam persidangan.

Ia menjelaskan bahwa dalam praktiknya, pengujian akuntabilitas terhadap pelaksanaan DPA dilakukan melalui sidang untuk memeriksa kesepakatan antara Penuntut Umum dengan korporasi. Hakim tidak hanya memeriksa aspek formal, tetapi juga substansi kesepakatan, termasuk jaminan pemulihan kerugian negara serta kepatuhan terhadap prinsip keadilan.

Baca Juga :  Saksi Tata Sugianto: Permintaan Ganti Rugi Rp350 Juta Disampaikan Bangun Paulus pada Pertemuan di Puri Mall

Berdasarkan SEMA Nomor 1 Tahun 2026, pengadilan wajib menilai kelayakan dan keabsahan DPA sebelum disahkan. Pemeriksaan tersebut dilakukan oleh hakim tunggal yang menilai terpenuhinya syarat-syarat sebagaimana diatur dalam Pasal 328 ayat (8) dan ayat (12).

Sorotan penting lainnya menyentuh persoalan akibat hukum jika terjadi pelanggaran prosedur dalam penyusunan DPA. Dr. Albertina Ho mengingatkan bahwa pelanggaran prosedural dapat menyebabkan DPA batal demi hukum. Kondisi tersebut berpotensi menjadi dasar bagi tersangka untuk mengajukan keberatan atau perlawanan.

Namun demikian, ia menilai masih terdapat ruang normatif yang belum terisi, khususnya mengenai mekanisme atau prosedur pengajuan keberatan atas batalnya DPA tersebut. Kekosongan ini, menurutnya, perlu segera diperjelas guna mencegah multitafsir dalam praktik peradilan.

Baca Juga :  Dikritik karena Pertontonkan Tersangka, Firli: Efek Jera agar Tak Ditiru

Isu teknis lain yang tak luput dari perhatian adalah mengenai pencatatan resmi DPA di pengadilan. DPA wajib dicatat dan disampaikan kepada hakim untuk dituangkan dalam berita acara.

Akan tetapi, model berita acara tersebut, apakah berbentuk berita acara sidang pengesahan DPA atau berita acara tersendiri, masih menjadi pertanyaan konseptual yang memerlukan kejelasan lebih lanjut.

Seminar nasional tersebut menjadi ruang refleksi bersama bagi akademisi dan praktisi hukum untuk menimbang apakah DPA benar-benar menjadi solusi efektif dalam pemulihan kerugian negara pada perkara tindak pidana korupsi oleh korporasi, atau justru berpotensi mengikis prinsip pertanggungjawaban pidana. (Acym)

Berita Terkait

Febrie Adriansyah Didakwa Bersama-sama dengan Ferry Boboho Memeras Tan Kian
Kejati Kaltara Tahan Dua Tersangka Korupsi Kredit Investasi Bank BRI Agroniaga kepada PT SSP
Satgas PKH Kembali Serahkan Rp13,2 Triliun ke Kas Negara dan Masuk Tahap VIII
Saksi Tata Sugianto: Permintaan Ganti Rugi Rp350 Juta Disampaikan Bangun Paulus pada Pertemuan di Puri Mall
Berkas Perkara Lengkap, Dadan Hindayana Dkk Dilimpahkan ke Kejari Jakarta Pusat
Kredit Fiktif Bank BRI, Maria Lastry Gultom Divonis 8 Tahun Penjara dan Bayar Uang Pengganti Rp122 Miliar
Merasa Takut dan Terpaksa, Saksi Vinsen Akui Transfer Total Rp80 Juta ke Bangun Paulus Tudungta
Kasus Korupsi Tata Kelola Nikel, Kejagung Tangkap Mantan Sekjen ESDM Teguh Pamudji

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:24 WIB

Febrie Adriansyah Didakwa Bersama-sama dengan Ferry Boboho Memeras Tan Kian

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:22 WIB

Kejati Kaltara Tahan Dua Tersangka Korupsi Kredit Investasi Bank BRI Agroniaga kepada PT SSP

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:01 WIB

Satgas PKH Kembali Serahkan Rp13,2 Triliun ke Kas Negara dan Masuk Tahap VIII

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:33 WIB

Saksi Tata Sugianto: Permintaan Ganti Rugi Rp350 Juta Disampaikan Bangun Paulus pada Pertemuan di Puri Mall

Selasa, 29 September 2026 - 20:58 WIB

Berkas Perkara Lengkap, Dadan Hindayana Dkk Dilimpahkan ke Kejari Jakarta Pusat

Berita Terbaru